Kursi, Kopi, dan Aku yang Malas

Aku duduk di kursi ini sudah hampir setengah jam. Laptop di depan menyala terang, kursor berkedip-kedip seolah mengejekku: ayo nulis, dasar pemalas! Padahal dulu aku rajin banget. Lima menit saja cukup buat bikin paragraf reflektif yang sok dalam. Sekarang? Lima menit hanya cukup untuk… membuka YouTube, nonton satu video, lalu bilang ke diri sendiri: abis … Read more

Dua Wajah Ketidakpuasan

“Restlessness is discontent — and discontent is the first necessity of progress.”— Thomas Edison Thomas Edison, sang penemu yang mengubah dunia dengan lampu pijar, pernah mengatakan bahwa kegelisahan dan ketidakpuasan adalah kebutuhan pertama untuk kemajuan. Pernyataan ini terdengar sederhana, namun menyimpan paradoks yang dalam: bukankah ketidakpuasan sering dianggap sebagai sifat negatif? Jawabannya: tergantung bagaimana kita … Read more

Mengetuk Jendela Yang Tak Pernah Tutup

Ada kata-kata yang lahir begitu saja —tanpa rencana, tanpa peta, tanpa alasan yang bisa kujelaskan dengan rapi.Mereka muncul di sela pagi yang malas,atau sore yang dingin,mengetuk jendela di kepalakuyang entah kenapa tak pernah benar-benar kututup. Aku menulisnya pelan-pelan,seringkali dengan ragu.Takut salah. Takut kosong. Takut ditertawakan.Tapi juga takut kalau diam-diamkata-kata ini pergi,lari ke orang lain yang … Read more

Resolusi Minggu Depan

Jam 22.58.Raka duduk di coffee shop 24 jam dekat kosannya. Di depannya, sebuah planner mahal warna biru dongker, pulpen gel hitam, dan segelas kopi susu yang udah keburu dingin. Di meja seberang, Beni duduk sambil makan donat.“Gila, Rak. Lo niat banget. Planner baru, tempat baru, kopi premium. Beneran mau jadi manusia produktif, nih?” Raka nyengir … Read more