Kursi, Kopi, dan Aku yang Malas

Aku duduk di kursi ini sudah hampir setengah jam. Laptop di depan menyala terang, kursor berkedip-kedip seolah mengejekku: ayo nulis, dasar pemalas!

Padahal dulu aku rajin banget. Lima menit saja cukup buat bikin paragraf reflektif yang sok dalam. Sekarang? Lima menit hanya cukup untuk… membuka YouTube, nonton satu video, lalu bilang ke diri sendiri: abis ini baru nulis. Tapi ujung-ujungnya malah scroll lagi.

Sejak aku sempat sakit dua minggu lalu, entah kenapa energi menulisku seperti tertinggal di kasur. Tubuhku sudah sembuh, tapi semangatku masih demam.

Aku mencoba menatap secangkir kopi dingin di meja. “Hei kopi, kenapa kamu nggak bisa kasih aku inspirasi seperti di iklan-iklan itu?” Kopiku diam. Tentu saja, karena dia kopi, bukan konsultan motivasi.

Kadang aku berpikir, mungkin aku bukan lagi penulis, tapi kolektor alasan. Alasan capek, alasan sibuk, alasan laptopnya kurang bersih, bahkan alasan absurd: kursor terlalu cepat berkedip.

Yang paling lucu, aku masih pakai AI untuk ngebantu bikin konten. Tapi tetap saja ujung-ujungnya aku yang harus mikirin, nge-edit, dan posting. Jadi aku merasa seperti punya asisten yang rajin banget, tapi bosnya (aku) malah mageran.

Aku menarik napas panjang.
“Mungkin aku bukan malas,” aku mencoba menghibur diri. “Mungkin aku sedang dalam fase kreatif… tapi kreatif mencari cara buat nggak kerja.”

Dan dengan bijaknya, aku menutup laptop.
Aku berkata dalam hati: Besok pasti nulis.
… yang sudah aku katakan persis sama, kemarin.

Leave a Comment