Mengetuk Jendela Yang Tak Pernah Tutup

Ada kata-kata yang lahir begitu saja —
tanpa rencana, tanpa peta, tanpa alasan yang bisa kujelaskan dengan rapi.
Mereka muncul di sela pagi yang malas,
atau sore yang dingin,
mengetuk jendela di kepalaku
yang entah kenapa tak pernah benar-benar kututup.

Aku menulisnya pelan-pelan,
seringkali dengan ragu.
Takut salah. Takut kosong. Takut ditertawakan.
Tapi juga takut kalau diam-diam
kata-kata ini pergi,
lari ke orang lain yang lebih berani merawatnya.

Ada ambisi kecil yang menyalakan lampu di dadaku:
Aku ingin tulisanku menetap di kepala orang lain,
menginap di sudut hati yang barangkali juga sedang sunyi.
Tapi di balik keinginan itu,
selalu ada suara kecil yang berbisik:
“Apa kau yakin pantas?”

Aku belum selesai menjawabnya.
Yang kupunya hanya tangan
yang terus menulis, meski ragu.
Meski takut. Meski seringkali
hanya merangkai kata-kata
yang singgah sebentar,
mengetuk jendela,
lalu diam di kaca,
meninggalkan jejak,
meski tak pernah benar-benar kuminta untuk tinggal.

Kalau suatu hari kata-kataku sampai padamu,
biarlah ia datang seadanya:
rapuh, setengah basah, belum sepenuhnya reda.
Seperti mengetuk jendela
yang kau biarkan terbuka —
karena diam-diam, kau pun tak ingin benar-benar menutupnya.

Leave a Comment