Di sekolah itu, nama Naya harum lebih dari parfum diskon di supermarket.
Nilai ulangannya mulus, PR selalu kinclong, dan catatan tulisannya sering dipinjam orang sampai jadi lembaran fotokopian berlapis-lapis.
Bahkan Bu Ratna, wali kelasnya, pernah berkata,
“Kalau semua murid seperti Naya, saya bisa cuti setahun tanpa rasa bersalah.”
Teman-temannya juga sudah terbiasa hidup di orbit Naya.
“Na, ajarin rumus dong.”
“Na, boleh pinjem catatan?”
“Na, tolong jelasin kenapa aku selalu ngantuk pas jam Fisika.”
Semua bisa dijawabnya, kecuali mungkin pertanyaan terakhir.
Ia adalah murid teladan—sempurna, indah, megah.
Ya, seperti bulu burung merak.
Sampai pada hari Selasa yang agak… bersejarah.
“Anak-anak, kumpulkan tugas Biologi minggu lalu!” seru Bu Ratna sambil menepuk meja.
Murid-murid langsung panik. Ada yang buru-buru menyalin dari teman, ada yang merobek kertas buram dan pura-pura itu tugas asli.
Naya? Ia tersenyum percaya diri. Dalam hatinya: Sudah pasti tugasku ada. Bahkan margin 4 cm-nya kayak garis penggaris arsitek.
Namun ketika membuka mapnya… kosong.
Ia cek tas.
Ia cek buku.
Ia bahkan sempat mengintip laci meja tetangga tetap nihil.
Peluh dingin menetes.
“Bu… saya… saya lupa,” ucapnya dengan suara seperti kucing mengeong terakhir kali.
Kelas hening.
Lalu meledak.
“Hah?! Naya lupa tugas?!”
“Cepet! Ada yang bawa kamera? Kita bikin dokumentasi sejarah!”
“Bikin breaking news: Murid Teladan Tersandung Kertas, Rating Dijamin Naik!”
Salah satu teman bahkan berdiri di depan kelas, pura-pura jadi reporter,
“Halo pemirsa, bersama saya Fajar. Kita baru saja menyaksikan fenomena langka: Naya, murid teladan, lupa tugas! Sumber terpercaya mengatakan, kiamat kecil mungkin segera tiba.”
Suasana kacau.
Namun Bu Ratna hanya tersenyum. “Tidak apa-apa, Naya. Sekali-sekali lupa juga manusiawi. Lain kali jangan ya.”
Tapi Naya tidak bisa santai. Sepulang sekolah, ia menatap bayangan di cermin.
“Ini kehancuran. Reputasi yang kubangun bertahun-tahun runtuh gara-gara selembar kertas…”
Bayangan di cermin seolah mengangguk setuju, meski tetap terlihat absurd.
Kepalanya berandai-andai: besok akan ada upacara darurat.
“Dengan ini, Naya resmi diturunkan dari jabatan murid teladan. Bendera setengah tiang.”
Marching band memainkan lagu sedih. Pedagang cilok di depan sekolah pun terisak lirih.
Namun esok harinya, dunia berjalan seperti biasa.
Temannya masih minta tolong soal Matematika.
Gurunya tetap menunjuk Naya menjawab soal di papan.
Bahkan Dina, sahabatnya, cuma ngakak,
“Na, kamu tuh kayak burung merak. Bulu kamu udah indah banget, terus ada satu noda kecil. Orang-orang nggak peduli, meraknya tetep cantik. Malah kalau dicari pun susah ketemu.”
Naya melongo.
“Jadi aku masih teladan?”
“Ya iya lah. Kalau orangnya emang bagus, salah kecil itu cuma kayak remah kerupuk di meja makan. Tinggal tiup, hilang.”
Teman-teman lain bahkan menambahkan,
“Na, kalau kamu mau bikin kesalahan lagi, bilang aja. Kita siap bikin press release biar dramanya seru.”
Malamnya, Naya kembali duduk di meja belajar. Ponsel bergetar, notifikasi game online menyala genit.
Jarinya gatal ingin klik Start.
Ia sempat termenung, lalu tertawa kecil.
“Mungkin memang benar… manusia sehebat apa pun tetap ada salahnya. Bedanya, kalau dasarnya baik, salah itu hanya noda kecil di bulu burung merak.”
Dan setelah itu?
Ya tentu saja… ia main game lagi.
Karena toh dunia tidak runtuh hanya gara-gara lupa tugas.