
Di atas meja, sebuah buku sejarah terbuka. Halamannya dipenuhi cerita tentang kemerdekaan: pidato, darah, dan keberanian anak-anak muda yang dulu berbaris di jalan.
Di sampingnya, sebuah ponsel bergetar. Layar menyala terang, menampilkan siaran langsung gim tembak-menembak. Sorakan riuh terdengar dari speaker kecilnya.
Buku itu menceritakan bagaimana pemuda rela kehilangan nyawa demi sebuah bendera.
Ponsel itu memperlihatkan bagaimana pemuda rela kehilangan waktu demi sebuah peringkat.
Sama-sama berteriak, tapi dengan arti yang berbeda.
Sama-sama menatap layar—satu kertas kusam, satu kaca berkilau—tapi dengan tujuan yang berlawanan.
Buku itu menunggu untuk dibaca.
Ponsel itu menunggu untuk disentuh.
Pada akhirnya, tangan lebih cepat memilih kaca yang bercahaya.
Sementara lampu belajar tetap menyala, menerangi halaman yang tak lagi dipedulikan.