apa kabar?
Pertanyaan singkat,
tak perlu kau jawab panjang.
Aku cuma iseng mengetuk percakapan
yang lama dibiarkan dingin
di antara jeda pesan
yang tak lagi saling mencari.

Aku di sini baik-baik saja.
Sibuk, pura-pura sibuk,
bangun terlalu pagi,
tidur terlalu larut,
kadang masih sempat bermimpi wajah
yang sudah tak kutandai di kontak.
Lucu, mimpi selalu punya cara
memanggil yang tak ingin kita ingat betul.

Rambutmu masih panjang, kan?
Kupikir begitu.
Kau selalu pandai menjaga
apa pun yang kau anggap berharga,
meski sekarang tak ada lagi alasanku
ikut merapikannya.

Aku menulis ini bukan untuk bernostalgia,
tidak juga berharap apa-apa.
Anggap saja seperti hujan kecil di sore hari —
datang sebentar, menepuk kaca,
lalu reda
bahkan sebelum kau sempat menutup jendela.

Kalau nanti kita bertemu di jalan,
aku hanya akan angguk pelan,
tersenyum seperlunya,
menanyakan kabar secukupnya.
Tak ada yang perlu diulang,
tak ada yang harus diungkit.
Sisanya biar tetap tinggal
di sudut kepala yang pura-pura lupa,
meski diam-diam tak pernah benar-benar pergi.

Begitu saja.
Tak perlu kau balas.
Aku pun tidak benar-benar menunggu.