Rencana yang Tak Pernah Hidup

Jam 23.42.
Raka duduk bersila di kasur, ditemani kopi instan yang sudah dingin dan ponsel yang layarnya memancarkan cahaya penuh harapan. Ia baru saja menyusun jadwal untuk besok:

  • 06.00: Bangun → olahraga ringan
  • 07.00: Sarapan sehat (telur rebus, roti gandum)
  • 08.00: Belanja (sabun, kopi, buah)
  • 09.00–17.00: Kerja
  • 17.30: Cuci baju
  • 18.30: Masak nasi goreng sehat
  • 19.30: Lanjut baca buku Atomic Habits
  • 21.30: Tidur, no scroll TikTok

Di bawahnya, ia tulis satu kalimat motivasi:
“Yang hidup bukan hanya tubuhmu, tapi juga rencanamu.”

Raka menatap daftar itu sambil tersenyum kecil.
“Besok, fix hidup gue berubah,” katanya yakin.

Lima menit kemudian, ia tetap scroll Instagram. sampai subuh.

06.00

Alarm pertama berbunyi. Suara nada “Morning Zen” mengalun pelan.

Raka menggerutu sambil meraba ponsel.
“Baru juga tidur lima menit…”

Dengan refleks, ia sentuh tombol snooze.

06.10
Alarm kedua.
Raka membuka mata setengah, lalu berkata lirih,
“Olahraga tuh bagusnya abis matahari naik, biar dapet vitamin D…”

07.15

Ibunya menelepon.
“RAKA! Kerja jam berapa, Le?”

“Jam sembilan, Bu…” jawab Raka setengah sadar.
Dia tengok jam. Seketika, matanya terbuka penuh.

“Jam tujuh lebih lima belas?!”
Dia langsung bangkit, menabrak kursi, nyaris jatuh.

Mulai dari sinilah hidup Raka berubah… jadi lebih kacau.

Sikat gigi sambil ngelap muka.
Pakai celana sambil cari kaus kaki yang entah kenapa nggak pernah ketemu pasangannya.
Masukkan sisa roti tawar ke kantong sambil lari keluar rumah.
Untung ojek online masih ada yang nyangkut di sekitar komplek.

Di kantor

“Bro, tumben masuk jam segini. Ketiduran atau abis menyelamatkan dunia?” goda Beni, teman kerjanya.

“Bangun telat, tapi demi masa depan yang sehat,” jawab Raka sambil ngantuk.
“Besok gue bangun jam lima lima puluh sembilan. Biar beda satu menit sama alarm.”Beni tertawa.
“Lu tuh kalau niat doang mah bisa daftar surga. Eksekusinya nol terus.”

Raka mengangkat bahu. “Proses, Bro. Hidup itu maraton. Tapi gue masih di garis start.”

Baru sempat duduk lima menit, bos lewat.

“Raka, nanti bantu revisi laporan tender yang kemarin ya. Kita kejar setor malam ini.”

Raka diam. Menelan air liur.

“Siap, Pak.”
Olahraga gagal. Belanja gagal. Pulang pun diambil kantor.
Di kepalanya, jadwal harapan berubah jadi PDF lemburan.

21.47

Raka pulang. Jaketnya penuh debu jalanan.
Di angkot, dia menatap jendela gelap sambil membuka kembali daftar agendanya.

Semuanya masih utuh. Tak ada yang dicoret. Semuanya tinggal rencana.

Ponselnya mengeluarkan notifikasi:

“Atomic Habits reminder: kebiasaan besar dimulai dari langkah kecil.”

Raka memiringkan kepala.
“Langkah kecilnya aja belum sempat gue ambil…”

Sampai rumah, dia cuma punya energi untuk melempar tas ke sofa, lalu menatap kasur seperti tempat peristirahatan terakhir.

Ia membuka catatan baru:

  • 06.00: Bangun → olahraga ringan
  • 07.00: Sarapan sehat
  • … (sisanya copy paste)

Lalu menambahkan kalimat baru:
“Yang penting, masih punya niat.”


Keesokan harinya

Plot twist: dia bangun jam 08.00 lagi.

Tapi anehnya, dia tidak merasa menyerah.
Malah ada bagian kecil dari dirinya yang menertawakan semuanya.

Malam harinya, ia cerita ke Beni lewat chat:

🧠 Raka: Bro, jadwal gue udah disusun rapi banget semalam.
😴 Beni: Tapi lu bangun jam delapan lagi?
🧠 Raka: Bangun jam 08.02. Lebih baik dari kemarin.
😴 Beni: Ah mantap. Konsistensi kemunduran.

Raka membalas dengan stiker katak yoga.

Kalian seperti Raka?

Leave a Comment