Kenapa Ayam Menyebrang Jalan?

Pertanyaan ini sudah ada entah sejak kapan. Mungkin sejak ayam pertama kali menemukan jalan. Atau sejak manusia pertama kali merasa perlu menanyakan sesuatu yang sebetulnya tidak penting.

Kenapa ayam menyebrang jalan?
Mungkin karena di seberang ada jagung.
Atau mungkin karena ayamnya bosan.
Atau mungkin, ayam itu tidak benar-benar ingin menyebrang — hanya ingin berjalan sedikit, tapi kebetulan jalannya keburu selesai sebelum ia sadar sudah di sisi lain.

Manusia memang suka begitu: mencari makna di tempat yang tidak berniat memberi makna. Kalau ada ayam diam di pinggir jalan, kita lewat begitu saja. Tapi begitu ayam itu melangkah ke tengah, kita langsung ingin tahu: kenapa dia di situ? Seolah setiap gerakan harus punya alasan yang besar, padahal mungkin ayam itu cuma tidak tahu harus ke mana.

Tapi kita tidak suka jawaban sesederhana itu. Maka kita buat teori: ayam menyebrang karena naluri. Karena evolusi. Karena kebetulan. Karena sesuatu. Karena apa pun yang terdengar pintar.

Kemudian muncul “bagaimana”.
Bagaimana ayam itu tahu kapan harus menyebrang?
Bagaimana kalau dia takut?
Bagaimana kalau dia sebenarnya cuma mengikuti bayangannya sendiri?
Dan dari situ, pertanyaan yang awalnya sederhana jadi semacam lubang tak berujung.

Kita berpikir keras, menulis, meneliti, berdebat. Sampai akhirnya seseorang berkata dengan nada puas: “Ternyata ayam menyebrang karena…”
Dan titik-titik itu bisa diisi sesuka hati.
Karena lapar. Karena ingin tahu. Karena alasan eksistensial yang rumit.
Kata “ternyata” terdengar seperti akhir, padahal cuma jeda yang menunggu kata “tapi.”

Tapi apakah benar begitu?
Tapi siapa yang tahu isi hati ayam?
Tapi apa pentingnya semua ini?

“Tapi” seperti tangan yang diam-diam menarik lagi kesimpulan yang baru kita letakkan. Ia datang pelan-pelan, tapi selalu berhasil membatalkan ketenangan yang baru saja kita dapat.

Mungkin manusia memang tidak tahan dengan diam. Kita selalu ingin bergerak, bahkan kalau tidak tahu mau ke mana. Kita ingin menyeberang sesuatu — jalan, waktu, masa lalu, ketidakpastian — hanya supaya merasa sedang menuju tempat lain. Padahal bisa jadi kita cuma berpindah dari satu kebingungan ke kebingungan berikutnya.

Dan lucunya, setelah semua itu, kita akan berkata:
“Ternyata begini hidup itu.”
Lalu beberapa detik kemudian, dengan napas panjang:
“Tapi…”

Mungkin ayam menyebrang jalan bukan karena alasan besar. Mungkin ia hanya ingin melihat seperti apa dunia di sisi lain. Mungkin juga tidak ada apa-apa di sana. Tapi tetap saja ia berjalan, karena diam di tempat pun tak menjamin apapun.

Dan manusia — melihat itu — ikut merasa terinspirasi.
Lalu mulai bertanya.
Lalu mulai mencari.
Lalu mulai bingung.
Dan saat kebingungan itu mulai terasa terlalu dalam, kita akan bilang:
“Ah, sudahlah. Namanya juga hidup.”

Padahal mungkin kita cuma lelah.
Atau mungkin kita, tanpa sadar, sedang menyeberang jalan yang sama — hanya saja tidak tahu sedang menyeberang ke mana.

Leave a Comment