Terlalu Dalam di Kepala

Aku punya banyak ide. Sumpah. Ide bikin usaha, ide nulis buku, ide jadi orang sukses. Pokoknya, kalau ide bisa dijual, aku udah pensiun di Bali sambil minum es kelapa.
Masalahnya cuma satu: semuanya berhenti di kepala. Terlalu dalam. Sampai tenggelam.

Pernah aku coba bikin daftar rencana hidup di buku catatan. Halaman pertama penuh semangat, halaman kedua mulai mikir, halaman ketiga isinya cuma coretan: “nanti aja.” Entah kenapa, setiap kali aku ingin mulai, otakku mendadak jadi konsultan profesional dan langsung menganalisis risiko, menghitung kerugian, dan menyiapkan 12 alasan kenapa “hari ini belum waktu yang tepat.”

Aku curiga, kalau otak punya pekerjaan tetap, dia pasti HRD. Hobinya menolak lamaran niat baik dengan alasan “belum memenuhi kriteria kesiapan mental.”

Lucunya, aku sering merasa produktif padahal nggak ngapa-ngapain. Misalnya, aku duduk di depan laptop, niat nulis. Lima menit kemudian buka YouTube “buat cari inspirasi.” Dua jam kemudian aku sudah nonton video orang renovasi rumah di Jepang. Inspirasi sih nggak dapat, tapi aku jadi tahu harga keramik di Tokyo.

Kadang aku iri sama orang-orang yang nggak banyak mikir. Mereka bilang, “yang penting jalan dulu.”
Aku juga pengin kayak gitu. Tapi baru mau melangkah, pikiranku udah kasih notifikasi:

“Apakah kamu yakin mau melangkah tanpa analisis SWOT?”

Akhirnya, langkahku batal.
Aku malah buka snack, rebahan, dan memikirkan kenapa aku terlalu banyak berpikir.

Lucu juga, manusia suka bilang “ikuti kata hati,” tapi begitu hati bilang “ayo mulai,” kepala langsung bilang, “eh, jangan buru-buru, pikirkan dulu.”
Kalau hati dan kepala ini pasangan, mereka udah putus dari lama — soalnya satunya mau spontan, satunya lagi overthinking.

Suatu malam aku benar-benar ingin berubah. Aku pasang alarm jam lima pagi, niat bangun buat olahraga. Alarm bunyi, aku bangun — tapi cuma untuk mematikan alarm. Aku berpikir, “aku bisa mulai besok, lebih segar, lebih siap.” Besoknya pun begitu. Dan hari-hari berikutnya jadi kompetisi siapa yang lebih cepat: alarm berbunyi, atau aku menekan tombol snooze.

Tapi aku nggak sendiri. Temanku juga begitu.
Dia punya ide bisnis jual kopi konsep “ngopi sambil curhat.” Keren, kan? Udah dibikin logo, tagline, sampai desain kemasannya. Tiga tahun berlalu, satu-satunya yang terealisasi cuma logonya, itu pun jadi foto profil WhatsApp.

Kita berdua sepakat: mungkin masalahnya bukan ide, tapi gravitasi pikiran. Semakin dalam kita berpikir, semakin berat keluar dari kepala. Sampai akhirnya, hidup cuma jadi versi beta dari semua rencana yang tak pernah di-update.


Kau tahu? Aku barusan mikir… eh, sudahlah. Nanti aja.

Leave a Comment