Tongkrongan CEO Muda

Kami cuma mau ngopi.

Serius.

Tidak ada niat mendirikan perusahaan. Tidak ada rencana menguasai pasar Asia Tenggara. Tidak ada target financial freedom. Yang ada cuma kopi sachet, bangku panjang, dan nyamuk yang kerjanya lebih rajin dari kami.

Bima datang duluan, bawa kopi panas dalam plastik.

“Gula dikit ya,” katanya.

Padahal hidupnya sendiri sudah manis sama penderitaan.

Raka datang sambil main HP, mukanya serius, kayak lagi bales chat investor. Padahal cuma scroll video orang kaya yang bikin kami miskin mental.

Tyo menyusul, bawa rokok dua batang dan harapan satu batang.

Aku datang terakhir, bawa perut kosong yang isinya cuma angin dan janji-janji hidup.

Kami duduk.

Ngopi.

Diam.

Menatap motor lewat.

Sampai akhirnya Bima merusak kedamaian.

“Eh… kepikiran nggak sih, kita bikin usaha?”

Kalimat ini lebih berbahaya dari notifikasi mantan jam dua pagi.

Raka langsung angkat kepala. “Wah iya. Biar hidup ada progres.”

Tyo mengangguk pelan. “Biar nggak begini terus.”

Aku ikut nimbrung, “Biar bisa beli Indomie dua bungkus tanpa mikir.”

Mereka mengabaikanku. Seperti bank mengabaikan pengajuan pinjamanku.

Mulailah kami rapat bisnis tanpa meja, tanpa modal, tanpa arah, tapi penuh mimpi.

“Kita bikin usaha besar,” kata Bima.

“Yang bisa bikin kita jadi CEO muda,” kata Raka.

“Yang bisa bikin mantan nyesel,” tambah Tyo.

Aku ikut serius, “Yang bisa bikin topping Indomie bukan cuma telur, tapi sosis.”

Kami semua mengangguk penuh ambisi murahan.

Di kepala kami, masa depan langsung cerah:

Kami bangun siang tapi disebut fleksibel.
Kami pakai hoodie tapi dibilang founder.
Kami duduk di kafe mahal, bukan karena ngopi, tapi karena meeting.

Padahal sekarang duduk di bangku tetangga sambil minum kopi seribuan.

“Usaha apa ya?” kata Raka.

“Kopi kekinian?” kata Bima.

“Startup,” kata Tyo.

“Startup apaan?” tanyaku.

“Pokoknya startup dulu, ide belakangan.”

Aku kagum pada keberanian orang-orang yang berani miskin dengan penuh gaya.

Kami mulai membahas hal-hal berat:

Investor.
Ekspansi.
Branding.
Exit strategy.

Aku cuma mikirin:

Indomie kuah atau goreng?

Di tengah diskusi panas tentang masa depan cerah yang tidak menyala, perutku bunyi.

Bukan bunyi malu-malu.

Bunyi keras.

Seperti notifikasi gagal transfer.

“Di rumah ada Indomie,” kataku pelan, tapi penuh harapan.

Semua langsung terdiam.

Bima menatap langit.

Raka menatap masa depan.

Tyo menatap dapur.

“Kita kan lagi bahas usaha,” kata Bima.

“Iya,” kataku. “Usaha supaya nggak pingsan.”

Kami berdebat sebentar.

Lima detik.

Setelah itu, masa depan kalah oleh rasa lapar.

Kami berdiri.

Menuju dapur.

Di sanalah keputusan besar dibuat:

Bukan tentang bisnis.

Tapi tentang rasa.

Bima merebus air dengan wajah serius, seperti sedang menandatangani kontrak miliaran.

Raka membuka bumbu perlahan, seolah itu dokumen rahasia negara.

Tyo memecahkan telur dengan gaya dramatis, katanya simbol harapan.

Aku mengawasi. Karena peran penting harus diawasi.

Sambil menunggu mie matang, Bima berkata,

“Sebenarnya ini bisa jadi langkah awal sih.”

Aku mengangguk. “Langkah awal menuju piring.”

Kami tertawa.

Mie matang.

Kami makan.

Diam.

Khusyuk.

Lebih khusyuk dari rapat RT.

Setelah perut terisi, pikiran jadi lebih jujur.

Raka bersandar.

“Jujur ya… bikin usaha ribet.”

Tyo mengangguk. “Iya. Banyak mikir, belum tentu jalan.”

Bima menatap panci kosong. “Kalau Indomie… jelas.”

Aku tersenyum penuh kebijaksanaan mie instan.

“Nah itu. Usaha belum tentu bikin kenyang. Indomie sudah terbukti.”

Kami semua terdiam.

Merenung.

Benar juga.

Untuk bikin usaha:

Butuh modal.
Butuh mental.
Butuh konsistensi.

Untuk bikin Indomie:

Butuh air panas.

Dan itu kami punya.

Bima berdiri, seperti mau pidato.

“Mulai sekarang kita fokus.”

Kami tegang.

“Fokus apa?” tanya Raka.

“Fokus jadi tukang rebus Indomie yang handal.”

Kami langsung tepuk tangan.

Tyo terharu. “Akhirnya ada tujuan hidup yang realistis.”

Aku mengangguk. “Lebih masuk akal daripada jadi CEO.”

Malam itu kami pulang dengan perut kenyang dan mimpi sederhana:

Besok ngopi lagi.

Kalau lapar, bikin Indomie lagi.

Kalau sempat, baru mimpi jadi pengusaha.

Karena kami sadar:

Tidak semua orang ditakdirkan jadi CEO.

Ada yang ditakdirkan…

jadi pelanggan setia Indomie.

Leave a Comment